Selasa, 30 Juli 2013

Petilasan Pajang

Memasuki Jl. Joko Tingkir, Gang Benowo II Sonojiwan RT 5/RW 22 Makam Haji, Kartosuro, Sukoharjo, terdapat sebuah plakat yang menunjukkan lokasi berjarak seitar 100 meter dari jalan raya. Lokasi ini adalah Petilasan Keraton Pajang. Kerajaan Pajang runtuh seiring berdirinya Mataram. Bekas fisiknya nyaris tak terlihat karena termakan usia. Tak ada sisa beteng, bekas bangunan atau semacamnya yang menggambarkan perjalanan fisik Keraton Pajang selama ratusan tahun. Yang masih tersisa dari Keraton Pajang hanyalah sisa-sisa kayu yang dahulunya merupakan getek atau rakit yang pernah dinaiki Joko Tingkir saat melawan buaya. Kemudian sebuah batu yang dulunya menjadi tempat bersemadi dan sebuah sendang yang airnya selalu jernih meskipun terletak di pinggir sungai yang keruh dan  kotor. Konon air sendang ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit jika air ini dipakai untuk mandi atau cuci muka. Di sini juga masih terdapat beberapa artefak peninggalan masa lalu.
Namun sayangnya, lokasi ini telah tertutup oleh bangunan baru yang sengaja dibuat untuk menyelamatkan petilasan. Ada sebuah pendapa, beberapa buah patung, beberapa bangunan penunjang lainnya yang secara keseluruhan lebih mirip sebuah taman. Upaya ini dilakukan pada tahun 1993 oleh Paguyuban Marsudi Petilasan Keraton Pajang dan akan terus berlanjut bahkan pendapa akan diubah mirip seperti keraton masa lalu lengkap dengan dinding bata dan atap sirap. Tapi sayangnya upaya ini belum tercapai dikarenakan belum ada dana yang memadai.

Pasalnya Petilasan Keraton Pajang sangt memprihatinkan. Pendanaan dari petilasan keraton ini hanyalah berasal dari dana swadaya para peziarah dari adanya acara rutin Jum’at Legen berupa do’a bersama atau tahlil yang dipimpin oleh juru kunci. Selain itu juga hanya ditunjang dari kerabat keturunan saja. Pihak Keraton Surakarta maupun Jogjakarta tidak pernah memberikan bantuan apapun untuk perawatan. Demikian pula dengan Dinas Pariwisata Pemda Kabupaten Sukoharjo.

Yayasan Kesultanan Keraton Pajang berencana membuat museum untuk Petilasan Keraton Pajang. Di museum ini akan diisi dengan replika-replika warisan budaya yang sempat tenggelam selama kurang lebih 424 tahun lalu. Hal ini dilakukan untuk melestarikan dan membangkitkan kembali Cagar Budaya Kesultanan Keraton Pajang. Dengan cara inilah peninggalan sejarah akan lebih mudah dilakukan dan sejarah bisa diluruskan. Museum ini rencananya akan lebih mengarah pada edukasi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, dan untuk melestarikan cagar budaya.
Pewaris Tahta Keraton Pajang yaitu Kanjeng Raden Adipati Suradi Joyo Negoro telah mendaftarkan Keraton Pajang pada UNESCO melalui Yayasan Keraton Nusantara. Bangunan yang kini telah ada diantaranya Balai Agung Kasultanan Keraton Pajang dan kedaton yang terletak di samping Petilasan Keraton Pajang. Diharapkan dengan dilestarikannya museum ini akan semakin banyak peziarah bahkan wisatawan yang ingin mengetahui sejarah Keraton Pajang.
A.    SEJARAH
Keraton Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya yang di masa mudanya bernama Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Mas Karebet adalah putra Ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenanga). Ia dinamakan Mas Karebet karena ketika ia lahir di rumahnya sedang diselenggarakan pementasan wayang beber oleh sahabat Ki Ageng Ageng Pengging yang bernama Ki Ageng Tingkir. Wayang beber yang materi pokoknya berupa gulungan kain bergambar adegan dalam dunia pewayangan itu dalam istilah lain sering disebut juga sebagai krebet. Ki Kebo Kenanga dan Ki Ageng Tingkir ini dikenal juga sebagai murid-murid Syeh Siti Jenar.
Sepulang dari mendalang di rumah Ki Ageng Pengging. Ki Ageng Tingkir jatuh sakit kemudian meninggal. Selang beberapa saat Ki Ageng Pengging dihukum mati oleh Demak karena ia dianggap akan melakukan pemberontakan. Setelah peristiwa itu Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan menyusul kematian suaminya. Mas Karebet yang masih kanak-kanak diambil sebagai anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir. Mas Karebet kemudian dikenal juga sebagai Jaka Tingkir.
Dalam naskah-naskah babad, negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang sudah melegenda menyebut Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan.
Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.
Atas jasanya itu, Jaka Sengara diangkat Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.
B.     KERAJAAN PAJANG
Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kerajaan Muslim di Pesisir
Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.
Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.
Sepeninggal Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsangbupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.
Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Ia pun menjadi pewaris takhta Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.
Pada awal berdirinya tahun 1549, wilayah Pajang hanya meliputi sebagian Jawa Tengah saja, karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Trenggana.
Pada tahun 1568 Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan puteri Hadiwijaya.
Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya.

 



0 komentar:

Posting Komentar